Oleh: Rakhel Ririn A., M.Psik

Bipolar disorder, yang sebelumnya dikenal sebagai manic-depressive disorder, adalah gangguan mental yang ditandai oleh perubahan suasana hati yang ekstrem antara episode mania dan depresi. Orang dengan gangguan ini bisa mengalami perasaan euforia, energi tinggi, dan impulsif selama episode mania, serta perasaan sedih, putus asa, dan kehilangan minat selama episode depresi. Artikel ini akan membahas lebih mendalam tentang asal mula penemuan gangguan ini, penyebabnya, serta cara mengelolanya.

Sejarah Bipolar Disorder: Siapa Penemunya?

Gangguan bipolar pertama kali diidentifikasi dalam bentuk yang kita kenal sekarang oleh seorang psikiater Prancis bernama Jean-Pierre Falret pada tahun 1854. Ia menggambarkan kondisi ini sebagai “la folie circulaire,” yang artinya kegilaan sirkuler, untuk menggambarkan pola fluktuasi suasana hati antara mania dan depresi. Namun, konsep gangguan suasana hati yang ekstrem telah ada jauh sebelumnya dalam sejarah. Penyair dan filsuf Yunani Kuno seperti Aretaeus dari Kapadokia (di sekitar abad ke-2) juga telah menggambarkan perilaku yang mirip dengan bipolar disorder.

Istilah “bipolar” baru mulai digunakan di abad ke-20 untuk menggantikan istilah “manic-depressive illness.” Istilah baru ini dianggap lebih tepat karena menekankan dua kutub utama, yaitu mania dan depresi, yang menjadi karakteristik utama dari gangguan ini.

Penyebab Bipolar Disorder

Penyebab pasti bipolar disorder belum sepenuhnya dipahami, tetapi penelitian menunjukkan bahwa kombinasi faktor genetik, biologis, dan lingkungan memainkan peran penting. Beberapa penyebab utamanya meliputi:

  • Faktor Genetik: Orang yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat bipolar disorder atau gangguan mental lainnya memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kondisi ini. Studi menunjukkan bahwa gangguan ini memiliki komponen genetik yang kuat.
  • Perubahan Kimia Otak: Ketidakseimbangan neurotransmitter—zat kimia di otak yang bertanggung jawab untuk mengatur suasana hati, seperti serotonin, dopamin, dan norepinefrin—diduga menjadi salah satu faktor utama terjadinya gangguan bipolar. Ketidakseimbangan ini mempengaruhi cara otak merespons emosi dan stres.
  • Lingkungan dan Psikososial: Stres tinggi, trauma emosional, kehilangan yang signifikan, atau penyalahgunaan zat dapat memicu episode mania atau depresi pada orang yang sudah rentan. Perubahan besar dalam hidup, seperti perceraian atau kematian anggota keluarga, juga dapat menjadi pemicu.

Pengobatan dan Manajemen Bipolar Disorder

Bipolar disorder adalah gangguan kronis yang tidak bisa disembuhkan sepenuhnya, tetapi dengan pengobatan  yang tepat, gejalanya bisa dikelola dengan baik. Berikut adalah beberapa langkah utama dalam pengobatan bipolar disorder:

  • Pengobatan: Obat-obatan seperti mood stabilizers (misalnya, lithium) sering diresepkan untuk membantu mengendalikan perubahan suasana hati. Obat antipsikotik dan antidepresan juga bisa digunakan tergantung pada jenis episode yang dialami. Pemantauan ketat dari dokter sangat penting karena setiap individu merespons pengobatan dengan cara yang berbeda.
  • Terapi Psikologis: Terapi kognitif-perilaku (CBT) adalah salah satu jenis terapi yang efektif dalam membantu individu dengan gangguan bipolar. Terapi ini membantu mereka mengenali pola pikir negatif dan menggantinya dengan yang lebih adaptif. Terapi keluarga juga dapat membantu mendukung individu yang terkena dan memperkuat sistem pendukung mereka.
  • Perubahan Gaya Hidup: Pola tidur yang konsisten, rutinitas harian yang teratur, dan olahraga teratur dapat membantu menstabilkan suasana hati. Selain itu, penting untuk menghindari penyalahgunaan alkohol atau zat lain karena ini bisa memperburuk gejala.
  • Manajemen Stres: Teknik relaksasi seperti meditasi, yoga, dan mindfulness dapat membantu individu mengurangi stres, yang merupakan pemicu umum episode mania atau depresi.

Hal yang Harus Dihindari

Untuk mencegah atau meminimalkan risiko episode manic-depressive, berikut adalah beberapa hal yang perlu dihindari:

  • Tidur yang Tidak Teratur: Kurang tidur atau tidur yang tidak konsisten dapat memicu episode mania. Orang dengan bipolar disorder perlu menjaga pola tidur yang baik dan teratur.
  • Stres Berlebihan: Stres adalah salah satu faktor pemicu utama bipolar disorder. Oleh karena itu, penting untuk mengelola stres secara efektif dengan teknik relaksasi dan menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
  • Penyalahgunaan Zat: Alkohol, narkoba, atau penggunaan obat-obatan secara sembarangan dapat memperburuk gejala bipolar dan menyebabkan episode mania atau depresi. Konsumsi zat-zat ini juga dapat mengganggu efektivitas pengobatan yang sedang dijalani.
  • Kekurangan Dukungan Sosial: Isolasi sosial atau kurangnya dukungan dari keluarga dan teman dapat memperburuk kondisi emosional seseorang dengan bipolar disorder. Dukungan sosial yang kuat sangat penting untuk stabilitas mental mereka.

Kesimpulan

Bipolar disorder adalah gangguan mental yang kompleks dengan penyebab yang bervariasi, mulai dari faktor genetik hingga lingkungan. Meskipun gangguan ini tidak bisa disembuhkan sepenuhnya, dengan pengobatan dan manajemen yang tepat, individu dengan bipolar disorder dapat menjalani hidup yang memuaskan dan produktif. Menjaga pola hidup sehat, mendapatkan dukungan emosional, dan menghindari pemicu seperti stres dan penyalahgunaan zat adalah langkah-langkah penting dalam mengelola gangguan ini.

Referensi: Falret, J.P. (1854). La Folie Circulaire. American Psychiatric Association. (2023). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5).


Eksplorasi konten lain dari Duwina Center

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan